Minggu, 26 Mei 2013

Tentang Anemia






Anemia termasuk penyakit kronis. Anemia penyakit kronis merupakan salah salah bentuk gangguan karena adanya defisiensi zat dalam tubuh. Anemia sering dijumpai pada pasien – pasien dengan penyakit inflamasi akut atau kronis, insufisiensi ginjal dan hipotiroid. Pada kondisi – kondisi tersebut terjadi kegagalan rangsangan eritropoetin terhadap sumsum tulang. Kadar eritropoetin di dalam serum meskipun tidak menurun di bawah kadar basal, tidak meningkat sesuai dengan derajat anemia. Respon proliferatif normal sumsum tulang terhadap anemia dipengaruhi oleh respon eritropoetin, rangsangan terhadap sumsum tulang dan zat besi yang cukup. Penurunan hemoglobin di bawah 12 gr/dl akan merangsang peningkatan produksi eritropoetin.
Eritropoetin adalah faktor utama yang dapat merangsang peningkatan produksi eritrosit, yaitu suatu hormon glikoprotein dengan berat molekul 34.000 yang dihasilkan oleh sel endotel kapiler peritubuler ginjal dan pembentukannya merupakan respon terhadap hipoksia jaringan. Pada orang normal sekitar 90% eritropoetin dibentuk di ginjal dan sisanya terutama dibentuk di sentrilobuler hepatosit hati.  Namun dibanding hati, ginjal lebih sensitif terhadap rangsangan hipoksia dalam pembentukan eritropoetin. Ikatan eritropoetin dengan reseptornya di sumsum tulang akan merangsang proliferasi dan maturasi stem sel untuk menghasilkan eritrosit matur yang baru. Respon eritropoetin sebanding dengan beratnya anemia dan tingginya proliferasi sel di sumsum tulang.
Selain itu diperlukan juga suplai zat besi yang adekuat. Zat besi ini berasal dari cadangan besi retikuloendotelial sistem (RES) dan zat besi dari pemecahan sel eritrosit. Dari eritrosit yang telah melampaui masa hidupnya dan hancur, hemoglobin akan dilepaskan dari sel, dicerna dan terjadi pelepasan besi bebas. Hanya sebagian kecil yang berasal dari makanan yang di konsumsi. Zat besi ini dibawa oleh transferin dan bila jumlahnya menurun (lebih rendah daripada zat besi serum normal), pembentukan hemoglobin dan respon proliferasi precursor eritroid terhadap eritropoetin terhalang. Selain itu, produksi eritropoetin, suplai zat besi, proliferasi precursor eritroid juga dipengaruhi produksi sitokin selama proses inflamasi (TNF-α, interleukin dan interferon).
Jumlah total zat besi dalam tubuh rata-rata 4-5 gram. Sekitar 65% dijumpai dalam bentuk hemoglobin, 4% dalam bentuk mioglobin dan 15-30% terutama disimpan dalam sistem RES dan parenkim hati, khususnya dalam bentuk feritin. Ketika besi diabsorbsi dari usus besar, besi tersebut dalam plasma darah membentuk transferin. Besi ini berikatan secara longgar dan dapat dilepaskan ke setiap sel jaringan pada setiap tempat di tubuh. Kelebihan besi dalam darah disimpan dalam seluruh tubuh tapi terutama di hepatosit hati dan sedikit di sel RES sumsum tulang. Dalam sitoplasma sel, besi terutama bergabung dengan apoferitin membentuk feritin. Berbagai jumlah besi dapat bergabung dalam bentuk kelompok radikal besi dengan molekul besar ini. Oleh karena itu feritin mungkin hanya mengandung sedikit zat besi atau bahkan banyak sekali. Besi yang disimpan sebagai feritin ini disebut besi cadangan. Di tempat penyimpanan, ada sedikit besi yang tersimpan dalam bentuk yang sama sekali tidak larut yang disebut hemosiderin. Hal ini terjadi bila jumlah total besi dalam tubuh melebihi yang dapat di tampung oleh tempat penyimpanan apoferitin.
Bila tubuh menjadi jenuh dengan besi sehingga seluruh apoferitin dalam tempat cadangan besi sudah terikat besi, maka kecepatan absorbsi besi dari traktus intestinal menjadi sangat menurun. Sebaliknya, bila tempat penyimpanan besi itu sampai kehabisan besi maka kecepatan absorbsinya menjadi sangat cepat, dapat sampai lima kali lipat atau lebih dibandingkan bila tempat penyimpanan besi dalam keadaan jenuh. Jadi jumlah total besi dalam tubuh sebagian besar diatur dengan mengatur kecepatan absorbsinya.
Pada penyakit ginjal berat hampir selalu dijumpai kegagalan respon eritropoetin normal. Gambaran dari anemia pada penyakitl ginjal kronik berupa normositik, normokrom, Mean Corpuscular Volume (MCV) normal, retikulosit count yang rendah dan tidak di jumpai polikromasi pada pemeriksaan darah tepi.

Tingkatan Anemia:
tingkatan anemia adalah penggolongan anemia berdasarkan stadium-stadium beratnya anemia yang sedang dialami. Menurut Soebroto (2009,p.59-60) tingkatan anemia adalah sebagai berikut:
Stadium 1
Tingkatan anemia pada stadium I ini berupa kehilangan zat besi melebihi asupannya, sehingga menghabiskan cadangan dalam tubuh, terutama di sum-sum tulang. Kadar ferritin (protein yang menampung zat besi) dalam darah berkurang secara progresif.
Stadium 2
Cadangan zat besi yang telah berkurang tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk pembentukan sel darah merah, sehingga sel darah merah yang dihasilkan jumlahnya lebih sedikit.
Stadium 3
Mulai terjadi anemia. Pada awal stadium ini, sel darah merah tampak normal, tetapi jumlahnya lebih sedikit. Kadar hemoglobin dan hematokrit menurun.
Stadium 4
Sum-sum tulang berusaha untuk menggantikan kekurangan zat besi dengan mempercepat pembelahan sel dan menghasilkan sel darah merah dengan ukuran yang sangat kecil (mikrositik), yang khas untuk anemia karena kekurangan zat besi.
Stadium 5
Dengan semakin memburuknya kekurangan zat besi dan anemia, maka akan timbul gejala-gejala karena kekurangan zat besi dan gejala-gejala karena anemia semakin memburuk. 

Tanda dan Gejala awal Anemia

Tanda dan gejala anemia biasanya tidak khas dan sering tidak jelas, seperti pucat, mudah lelah, berdebar dan sesak napas. Kepucatan bisa diperiksa pada telapak tangan, kuku dan konjungtiva palbera. Tanda yang khas meliputi anemia, angular stomatitis, glositis, disfagia, hipokloridia, koilonikia dan pafofagia. Tanda yang kurang khas berupa kelelahan, anoreksia, kepekaan terhadap infeksi meningkat, kelainan perilaku tertentu, kinerja intelektual serta kemampuan kerja menurun (Arisman, 2008).  
Gejala awal anemia zat besi berupa badan lemah, lelah, kurang energi, kurang nafsu makan, daya konsentrasi menurun, sakit kepala, mudah terinfeksi penyakit, stamina tubuh menurun, dan pandangan berkunang-kunang – terutama bila bangkit dari duduk. Selain itu, wajah, selaput lendir kelopak mata, bibir, dan kuku penderita tampak pucat. Kalau anemia sangat berat, dapat berakibat penderita sesak napas bahkan lemah jantung (Zarianis, 2006).
Gejala-gejala yang disebabkan oleh pasokan oksigen yang tidak mencukupi kebutuhan ini, bervariasi. Anemia bisa menyebabkan kelelahan, kelemahan, kurang tenaga dan kepala terasa melayang. Jika anemia bertambah berat, bisa menyebabkan stroke atau serangan jantung. Gejala lemah, letih, lesu, lelah, lunglai atau yang biasa disebut 5L juga merupakan salah satu gejala Anemia. Gejala yang lain adalah mata berkunang-kunang, berkurangnya daya konsentrasi dan menurunnya daya tahan tubuh (Wikipedia, 2007). 

Gejala umum dari penyakit ANEMIA..
1. Bagian dalam kelopak mata berwarna pucat

Sangat mudah untuk mendeteksi anemia dengan melihat mata. Ketika Anda meregangkan kelopak mata dan memperhatikan bagian bawah mata. Anda akan melihat bahwa bagian dalam kelopak mata berwarna pucat.

2. Kelelahan

Jika Anda merasa lelah sepanjang waktu selama satu bulan atau lebih, bisa jadi Anda memiliki jumlah sel darah merah yang rendah. Pasokan energi tubuh sangat bergantung pada oksidasi dan sel darah merah Semakin rendah sel darah merah, tingkat oksidasi dalam tubuh ikut berkurang.

3. Mual

Mereka yang menderita anemia seringkali mengalami gejala morning sickness atau mual segera setelah mereka bangun dari tempat tidur.

4. Sakit kepala

Orang yang mengalami anemia sering mengeluh sakit kepala secara terus-menerus. Kekurangan darah merah membuat otak kekurangan oksigen. Hal ini sering menyebabkan sakit kepala.

5. Ketika ditekan ujung jari berwarna putih atau pucat

Ketika Anda menekan ujung jari, daerah itu akan berubah jadi merah. Tetapi, jika Anda mengalami anemia, ujung jari Anda akan menjadi putih atau pucat.

6. Sesak napas

Jumlah darah yang rendah menurunkan tingkat oksigen dalam tubuh. Hal ini membuat penderita anemia sering merasa sesak napas atau sering terengah-engah ketika melakukan aktivitas sehari-hari seperti berjalan.

7. Palpitasi

Palpitasi adalah istilah medis untuk denyut jantung tidak teratur, terlalu kuat atau memiliki kecepatan abnormal. Ketika tubuh mengalami kekurangan oksigen, denyut jantung meningkat. Hal ini menyebabkan jantung berdebar tidak teratur dan cepat.

8. Pucat

Jika Anda mengalami anemia, wajah Anda akan terlihat pucat. Kulit juga akan menjadi putih kekuningan.

9. Rambut rontok

Rambut rontok bisa menjadi gejala anemia. Ketika kulit kepala tidak mendapatkan makanan yang cukup dari tubuh, Anda akan mengalami penipisan rambut dengan cepat.

10. Penurunan kekebalan tubuh

Ketika tubuh Anda memiliki energi yang sangat sedikit, kekebalan atau kemampuan tubuh untuk melawan penyakit ikut menurun. Anda akan mudah jatuh sakit atau kelelahan.

Inilah sepuluh gejala anemia yang perlu diwaspadai. Anemia bukan penyakit sepele yang bisa Anda abaikan. Jadi, pastikan Anda selalu menjaga asupan makanan Anda untuk menjaga kesehatan tubuh.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar